Tersebutlah sebuah kisah di hutan belantara. Di sana terdapat sekolah binatang. Berlari, memanjat, terbang, dan berenang adalah mata pelajarannya. Setelah tiba saatnya tahap evaluasi, si Kucing segera berlari dan memanjat pohon, dan hasilnya menakjubkan. Dari atas pohon itu juga Kucing segera terbang, dan segera setelah tubuhnya menyentuh tanah, Kucing terguling-guling karena kakinya patah dan tubuhnya remuk. Sekarang tiba giliran Bebek, yang mahir dalam bidang berenang dan terbang tapi tidak untuk berlari. Berkali-kali ia memaksakan diri memanjat pohon, hasilnya kaki Bebek lecet-lecet dan berdarah. Akibat cidera yang dialami Kucing dan Bebek itu, keduanya malah kehilangan kemampuan yang semula sangat mereka kuasai.
Cerita itu bisa juga menggambarkan sikap orang tua terhadap anak-anaknya. Dan, sesungguhnya setiap individu itu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Apabila kekurangannya dapat diterima apa adanya, sementara kelebihannya dikembangkan dengan baik, maka individu itu akan dapat berprestasi dengan optimal.
Orangtua atau guru sering kurang mau memahami anak-anak sebagai suatu individu yang unik. Kemampuan anak-anak sering disamaratakan, dengan menuntut mereka untuk mampu berprestasi dalam beberapa bidang sekaligus. Akibatnya, mereka sering menemui kegagalan dan akhirnya justru mengalami frustasi. Ingat, 'anak adalah tetap anak-anak, bukan orang dewasa ukuran mini'.
Keberhasilan suatu pendidikan sering dikaitkan dengan kemampuan para orangtua atau guru dalam hal memahami anak sebagai individu yang unik dimana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi yang berbeda namun saling melengkapi. Mungkin dapat diibaratkan sebagai bunga-bunga aneka warna di suatu taman yang indah, tumbuh dan merekah bersama. http://uny.ac.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar